Kamis, 31 Januari 2019

Hai semuanya! Aku baru saja buat sebuah cerita. Yah, sekalian menemani kalian yang pada lagi mager nih... Ayo silahkan dibaca^^



PERGI

       Jonathan Andersy adalah nama laki-laki yang saat ini sedang menemani Amanda mencari udara segar. Ia kuliah di jurusan arsitektur sedangkan Amanda di jurusan animasi. Mereka berdua sudah berteman sejak duduk di bangku SD. Amanda bekerja di sebuah cafe bernama Cafe Youth, ia bekerja untuk membantu kedua orang tuanya membayar biaya kuliahnya. Saat ini cafe tempatnya bekerja sekarang tutup untuk sementara waktu karena pemiliknya sedang berada di luar negeri dalam waktu yang lama, jadi ia bisa istirahat sebentar.

"Tan, ke kafenya Siska yuk!" ajak Amanda.
"Huft, bisa nggak sih nggak usah manggil aku dengan sebutan "Tan"? Memangnya aku ini setan apa?" Jona mendengus kesal.

Amanda hanya tertawa. Lesung pipinya yang selalu terlihat membuatnya terlihat manis dan menggemaskan. Mereka datang ke Cafe Endless milik Siska, teman mereka berdua ketika masih SMA. Ketika masuk, mereka segera mencari tempat yang nyaman lalu melihat menu.

"Kamu pesan apa tan?" Tanya Amanda, Jona diam sambil melihat menu.

"Iya deh, maaf. Kamu pesan apa Jona?" Amanda mengulangi pertanyaannya.

"Aku pesan chocolate waffle sama ice blend mocca, kamu apa?"
"Hmm... Aku crispy chicken sama lem..."
"Amanda..!!!"

Belum selesai Amanda berbicara seorang perempuan berteriak dengan suaranya yang melengking, hampir semua pengunjung menatap ke arahnya. Dengan cepat perempuan itu berlari dan mendekap Amanda dari belakang.

"Siska?"

"Aduh, udah lama ya kita tidak bertemu! Aku senang sekali bisa bertemu denganmu di sini!" Kata Siska sambil melompat kegirangan.

Amanda hanya tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya itu. Setelah Amanda dan Jona memesan makanan dan minuman, mereka melahap makanan mereka dan juga mengobrol dengan Siska.

       Siska Ulani, biasa dipanggil Siska. Ia satu sekolah dengan Amanda dan Jona. Siska selalu menjadi teman curhat Amanda dan juga melindungi Amanda dari "Geng Princess". Geng itu terdiri dari lima orang yaitu Dea, Rossy, Nuna, Ella, dan Adele. Setiap mereka lewat, Amanda selalu bersembunyi dibalik punggung Siska karena takut diejek, tapi tanpa ia sadari alasan ia selalu di-bully oleh Geng Princess adalah ia selalu terlihat cantik dan manis meskipun tanpa memakai riasan dan itu membuat para anggota Geng Princess iri dan menjadi haters Amanda. Meskipun Siska sudah mempunyai kafe, ia masih melanjutkan kuliah di jurusan akuntansi.

"Siska, kami pulang dulu ya" kata Amanda.

"Datang lagi ya! Cepat-cepat jadian gih, kalo udah jadian jangan lupa pajak jadiannya!" Ucap Siska menyikut perut Amanda.

"Apaan sih" bisik Amanda. Wajahnya memerah.

       Malam itu kota sangat ramai tapi tidak bagi Amanda dan Jona, suasana canggung diantara mereka berdua membuat kota yang rasanya sangat ramai terasa menjadi sepi.

"Jona, sepertinya kita nggak bisa ketemuan lagi deh.." ucap Amanda tiba-tiba.

"Ada apa? Apakah ada masalah?" Tanya Jona.

"Ehmm anu... A-aku ada urusan keluarga! Ya, ada urusan keluarga!" Ucap Amanda gugup.

"Beneran? Kok jawabnya gagap gitu?" Tanya Jeno. Ia tahu benar Amanda adalah tipe orang yang sulit berbohong.

"Iya, minggu depan kami semua akan pergi ke Thailand"

"Baiklah, jaga dirimu ya^^"

       Amanda pulang dan masuk ke kamarnya. Ia melihat foto yang terpampang di sebuah pigura kecil di meja belajarnya. Foto itu adalah fotonya bersama Jona ketika kelulusan SMA, setetes demi setetes air mata membasahi pipinya. Ia teringat suatu kejadian yang membuatnya semakin frustasi.
---
Dulu di SMA....
       Amanda sedang membaca buku yang baru saja ia pinjam dari perpustakaan, ia duduk di taman sekolah yang sepi dan juga memenangkan. Ketika asyik membaca, ia melihat dari kejauhan terdapat lima orang sedang berjalan mendekatinya, itu "Geng Princess". Amanda gemetaran dan ketakutan karena orang-orang itu semakin berjalan mendekatinya .
"Hai Amanda...  " sapa Nuna.
"A-ada perlu apa ya?" Tanya Amanda gemetaran.
"Halah, langsung intinya aja Nuna!!" Ucap Ella dengan nada tinggi.
"Jadi gini, loe tau Jonathan Andersy kan? Yang wajahnya blasteran Indonesia-Belanda? Gue mau loe jauhin dia!" Bentak Nuna.
"A-aku nggak ada hubungan apa-apa sama Jona!" Ucap Amanda
"Halah bohong!" Sahut Adele.
"Aku benar-benar tidak ada hubungan dengan Jo.."
Nuna tiba-tiba mendekat ke telinga Amanda. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Amanda tersentak kaget.
"Ok, bye. Pikir apa yang aku ucapkan tadi" ucap Nuna dari kejauhan.

---
"Hiks... Maaf Jona, maaf" Isak Amanda .
"Suatu saat nanti, kita pasti bisa bertemu kembali" ucap Amanda sambil tersenyum masam.

****

"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi. Tut." Telepon ditutup dengan cepat. Jona yang berada di Cafe Youth merasa cemas dengan Amanda.

"Ke mana Amanda? Ini sudah dua minggu lho!".

Lamunan Jona tentang kondisi Amanda akhirnya dibuyarkan oleh salah satu pelayan kafe itu.

"Kak, ini ice blend mocca-nya. Selamat menikmati" ucap pelayan dengan ramah.

"Eh, tunggu! Amanda hari ini kerja nggak?" Tanya Jona

"Amanda? Akhir-akhir ini dia nggak kerja kak, nggak tau juga kenapa" jawab si pelayan.

        Jona semakin khawatir dengan Amanda. Dua minggu Amanda tidak menelponnya, hari ini juga tidak kerja, ada apa ya? Setelah 15 menit berada di kafe, Jona segera keluar dan bermaksud untuk langsung menemui Amanda di rumahnya. Namun niat itu segera hilang ketika ia terhalang oleh keramaian yang terjadi di perempatan jalan. Ia melihat ambulans dan mobil polisi juga terdapat di sana. Sebelumnya Jona tak mempedulikan kejadian itu, tapi entah mengapa tiba-tiba ia mempunyai firasat buruk tentang kejadian itu, tepatnya di korban kejadian itu. Dengan cepat ia berlari menerobos kerumunan itu hingga ia menemui seorang ibu-ibu yang sedang melihat kejadian itu.

"Bu, maaf ada apa ya ini?" Tanya Jona.

"Eh, itu dek. Ada orang yang jatuh dari atap gedung tua itu! Sekarang udah dibawa sama petugas ambulans!" Kata sang ibu sambil menunjuk-nunjuk petugas yang sedang menggotong korban, Jona berlari mendekati petugas. Jona sangat terkejut ketika yang ditemuinya adalah Amanda.

"AMANDA!!"
"Tunggu, kamu saudara ini?"
"Iya, bolehkah saya ikut?"
"Baiklah, cepat naik!"

       Ambulans melaju dengan sangat cepat sedangkan para polisi memeriksa TKP. Jona memegang tangan Amanda yang begitu dingin
"Amanda, tolong buka matamu, kumohon. Kau boleh memanggilku "Tan", kau boleh mengacak-acak rambutku, kau boleh menyembunyikan barang-barangku lagi, kau boleh mengambil es krim milikku lagi, kau boleh melakukan semuanya yang kau mau. Tapi kumohon bukalah matamu." Jona memohon.
       Amanda dilarikan ke rumah sakit terdekat, Jona lalu menelpon ayah dan ibu Amanda. Tak lama kemudian kedua orang tua Amanda datang. Ketika mereka bertiga sedang menunggu, dokter keluar dari ruangan. Dengan berat hati dan sabar sang dokter mengatakan kepada mereka bertiga jika Amanda sudah tidak dapat diselamatkan, kedua orang tua Amanda sangat shock sedangkan Jona yang tidak bisa menerima kenyataan itu berlari menuju pantai, tempat favorit Amanda.

"Amanda! Mengapa kau pergi?! Andai saja aku bisa memutar waktu, aku akan mencari tahu masalah yang sudah membuatmu jadi seperti ini.." kata Jona sambil menunduk dan menangis. Ia memejamkan matanya.

"Hey! Apa yang kau lakukan disini? Tanya seorang gadis, suaranya yang lembut terdengar familiar oleh pendengaran Jona, seketika ia membalikkan badan dan mendongak. Betapa terkejutnya dia ketika yang ia temui sekarang adalah Amanda. Tapi ia sekarang menggunakan baju SMA.

"Amanda?"

"Eh, kau menangis? Hahahaha cengeng sekali kamu! Ayo pulang, sudah mulai larut, bla bla bla......." Ocehnya sambil menggandeng tangan Jona. Jona hanya diam, mengingat kata-kata yang tadi ia ucapkan. "Mungkin aku sudah memutar waktu, ini adalah saatnya aku mencari tahu masalahnya" pikir Jona.

       Di siang hari, ketika jam pulang. Seperti biasa, Amanda membawa buku yang baru saja pinjam dari perpustakaan lalu membacanya di taman yang sepi. Hari ini Jona tak bertemu dengan Amanda, hingga akhirnya mereka bertemu di depan kelas.

"Mau ke mana?"
"Ke... Taman, baca buku"
Oh, baiklah. Hati-hati"

       Ketika Amanda berjalan melewatinya, ia merasa sesuatu akan terjadi. Meskipun Jona tahu dengan firasatnya itu tapi mau tidak mau ia harus segera mengikuti Amanda. Ia memantau Amanda selama satu jam tapi tidak ada hasil, nihil. Ketika Jona memutuskan untuk pulang, ia melihat Geng Princess itu menghampiri Amanda. Ia kembali lagi ke tempat persembunyiannya, setelah mendengarkan pembicaraan mereka Jona segera menghampiri Amanda. Meskipun sudah dipaksa berkali-kali untuk cerita, Amanda tetap bungkam.
"Astaga, dia sangat susah untuk diajak cerita" ucap Jona sambil membenamkan wajahnya ke meja, membujuk Amanda adalah hal yang paling sulit baginya.

****

"Hei , kau sakit?" Ucap seorang gadis.

"Eh, Amanda? Ah, tidak kok" ucap Jona kikuk.

"Ini di.. Kampus ya?" Tanya Jona.

Amanda segera menarik tangan Jona dan berjalan keluar kampus sambil mengomeli Jona. "Ini saatnya aku mencari tahu apa masalah Amanda! Kali ini harus berhasil sebelum terlambat!" Pikir Jona dengan mantap. Mereka pergi ke restoran yang berada di dekat kampus setelah itu berjalan menuju taman kota. Udara dingin di malam hari membuat tubuh Amanda menggigil kedinginan, spontan Jona segera menyelimuti tubuhnya dengan jaket yang sekarang ia pakai. Amanda hanya tersipu malu melihat tingkah laku Jona yang selalu peduli padanya.

"Aku ingin bertanya padamu"

"Katakan saja."

Waktu kita SMA aku melihatmu berbicara dengan Geng Princess, kamu ketakutan waktu itu, apa mereka mengancammu tentang sesuatu?"

"Ah, mereka tidak me..."

"Kumohon jujur Amanda!"
Jona membentak Amanda tapi wajahnya tetap menatap ke bawah. Ia tidak bisa membentak Amanda dengan melihat wajahnya langsung.

"Sebenarnya, mereka menyuruhku untuk menjauh darimu, jika tidak mereka membuat dua pilihan yaitu keluargaku atau aku yang mati? Aku sudah berusaha untuk menjauhimu tapi rasanya berat sekali. Jadi aku memutuskan bahwa aku saja yang mati, maafkan aku." Ucap Amanda sambil menyandarkan kepalanya di bahu lebar Jona.

"Kau tahu, Nuna sangat mencintaimu. Aku pernah melihat ia membantu nenek-nenek menyeberangi jalan raya, ia juga merawat adiknya dengan sangat baik. Meskipun di sekolah ia mempunyai karakter yang buruk, namun di luar sekolah ia sangat baik. Belajarlah untuk mencintainya, ya?" Ucap Amanda.

       Jona berdiri dengan cepat membuat Amanda hampir jatuh, ia mengambil kotak merah dari saku celananya yang sebenarnya akan ia berikan sebelum Amanda meninggal. Sebuah cincin berlian yang cantik dan berkilau untuk Amanda.

"Sebenarnya aku secara tidak sengaja telah memutar waktu untuk menemuimu dan mencari tahu masalah yang kamu alami hingga kamu bunuh diri. Di hari kamu meninggal, aku berencana untuk melamarmu tapi kau malah pergi untuk selama-lamanya. Jadi, maukah kamu menerima cincin ini?" Kata Jona. Perlahan air mata turun dari mata Amanda.

"Bisakah kamu meletakkan cincin itu di jari manis tubuhku yang berada di masa depan? Tepatnya di jasadku?" Ucap Amanda lirih.

"Tentu saja. Akan ku penuhi permintaanmu"

       Dilihatnya wajah Amanda yang selalu mengisi hari-harinya. Sepertinya otaknya akan menyimpan wajah gadis manis itu dengan kuat. Tiba-tiba Amanda menyentuh pipi Jona dengan lembut.

"Kau harus bahagia, ya? Aku akan sedih jika kau terus-terusan sedih karena kepergian ku" ucap Amanda.

"Ya, pasti. Aku akan bahagia" ucap Jona sambil memegang tangan gadis itu yang berada di pipinya. Jona memejamkan mata.

****

"Kak Jona, bangun" kata Rico, adik Amanda.

"Oh, Rico. Ada apa ya?"

"Surat terakhir dari almarhumah Kak Amanda" Rico menyodorkan sebuah surat ke arah Jona lalu pergi begitu saja. Di depannya bertuliskan . "Untuk orang yang kusayangi dan kucintai hingga akhir hayatku, Jonathan Andersy." Jona segera membuka lalu membaca isinya.


Dear Jonathan <3

Terima kasih atas semua perhatian yang kamu berikan padaku, aku begitu bersyukur bisa mempunyai sahabat sepertimu. Dan jujur saja, kamu adalah cinta pertama dan terakhirku. Meskipun ragaku yg tidak bersamamu, namun hatiku akan selalu ada bersamamu. Kamu selalu mendapatkan ruang yang paling spesial di hatiku. Aku mencintaimu. Berbahagialah selalu meskipun tanpa adanya aku di kehidupanmu lagi. Aku yakin kita bisa bertemu kembali, aku menunggumu di sini.

Love you forever,
Resita Amanda


"Rico! Apa jasad kakakmu sudah dimakamkan?"
"Belum kak"
"Boleh aku melihatnya?"
"Ya"

       Jona segera melihat Amanda yang terbaring di peti mati. Ia begitu cantik meskipun sudah meninggal. Jona meletakkan cincin di jari manis Amanda dengan hati-hati.

"Amanda, meskipun kamu telah tiada. Kamu juga tetap mendapatkan ruang yang paling spesial di hatiku. Aku juga akan selalu mencintaimu hingga akhir hayatku"

--THE END--




Nah, gimana? Tulis menurut kalian di kolom komentar ya!! ^^
Aku bakal tulis lagi jika punya waktu luang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar